Selasa, 22 Mei 2012

About Love Which You Have

Renungan Cinta


Mungkin kita pernah menemukan artikel dengan judul "Cinta tak terbalas". Ya, jika udah bicara tentang "CINTA" , tidak akan pernah ada kata akhirnya, karena CINTA adalah anugerah yang indah sekaligus bikin gelisah. Yaa itulah cinta dengan segala kebaikan dan kesesatannya.
Cinta yang tak atau belum terbalas mungkin menyakitkan .. yang jelas bikin penasaran? sekaligus berbunga angan-angan, selalu ada pertanyaan "Andaikan dia mau sama aku..", "Apa dia tahu perasaanku ya?" Mau tidak mau, kita dipaksa untuk mengakui dengan jujur?. , tiap hari pertanyaan serupa itu selalu muncul berganti-ganti. Bila si dia menunjukkan respon ke arah "sana", hati kita langsung "kling-kling" bersinar cemerlang, serasa hanya kita yang diperhatikan .. "ooo, ternyata benar... dia juga punya perasaan yang sama. Tuh kan, hanya aku yang dapat perhatian seperti itu? Dia merespon apa yang aku lakukan dan bla bla bla." Tapi jika suatu hari si dia yang bikin kita kebat-kebit cuek bebek dalam satu hari, mungkin lupa kirim kabar walau hanya sekedar kirim sms, hati tanpa dikomando bilang " tuh kan, aku mah Ge-er aja, ah ternyata dia nggak suka ma aku, dia menganggap aku ini teman biasa." Hehe kacian ya? Lingkaran ini akan selalu berputar tak berkesudahan bila kita tidak bertanya langsung kepada si dia (mungkin karena takut ditolak kaleee! He2).

Kamis, 19 April 2012

Memulai Sebuah Perubahan


Ingin menulis tapi ku letih sekali sangat bana. Bukan tangan yang letih bukan pula mata tapi kepala beserta isinya. Bukan tak tau apa yang mau ditulis hanya saja kebosanan ini tak sanggup kuperdayakan untuk waktu sekarang ini malahan aku yang terpedaya dalamnya. Yang akan kutulis tu buanyak sekali, bertumpuk2 menggunung dan melangit sampai juga nu ke angkasa raya terbang kemana-mana kaya ngebelah atmosfir berlapis-lapis, Menuju rasi bintang paling manisss….haaahhhh,,, terpaksa deh ngayal dulu sampai ingat iklan.
Tema kali ini tetap seperti biasa yang kucoret dalam diary, kuingin mencaci diri sendiri atas segala kebodohan dan kesia-siaan yang ku perbuat, penyesalan mungkin lebih tepat, bukan unjuk rasa tak terima taqdir tapi hanya sebuah bentuk protes kepada diri sendiri kenapa selalu saja tidak luput dari seabrek kesalahan. Boleh dibilang bagiku ini proses dalam mengevaluasi diri. Menyaring kesalahan2 yang tlah kulakukan dan membuangnya jauh2 dari kehidupan ini. Boleh dibilang ku hanya ingin mulai dari diri sendiri dulu, hanya ingin mempengaruhi lingkungan dan bukan terpengaruh, getoh..

Kita ( pake kataganti kita aja yah, aku dan kamu plural) terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan, keburukan,maupun kelalaian. Namun, ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah.
Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Tapi, pada saat yang bersamaan,ternyata keluarganya 'babak belur', di kantor sendiri tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.

Jangankan mengubah Indonesia, mengubah anaknya saja tidak mampu. Banyak yang menginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa merubah sikap istri saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar. Tapi jawaban ini perlu diingat baik-baik.
Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri. Ingin mengubah Indonesia, caranya ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois. Pandangan itu ada benarnya sih jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri.Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas. Paham kira-kira ya..
Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikirkan genteng, memikirkan tiang sehebat apa pun, kalau pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupakan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesungguhan untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan keberanian melihat kekurangan diri.

Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses manapun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya.Kata kuncinya adalah keberanian.Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu gampang, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang-orang yang sukses sejati.
Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan orang yang tidak punya apa-apa  sekali pun. Tapi, kalau ada  orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang  kekurangan itu secara sistematis,  lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya, inilah calon orang  besar.

Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak  mengucap sepatah kata pun  untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti  bagi orang lain.
Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat  dan merasakannya.
Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan  dirasakan. Tapi percayalah, itu  akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang  simpati dan terdorong untuk juga  melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.

Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah anak,cucu, ponakan,  sulitnya  mengubah istri, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, kyai, jangan banyak menyalahkan santrinya. Tanya dulu diri sendiri. Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan karyawan, lihat dulu diri sendiri seperti apa.
Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya. Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri.Itu lebih baik dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri teladan. Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makin sungguh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang.
Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapi pembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan. Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil. Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut.
Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan diawali dari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Amien.

Catatan: Sebagian teks hasil plagiat. Jadi jangan cepat memberikan pujian, maklum ku lagi dalam proses pembelajaran. (^,^) jadi malu,, xixixi,,,,

Kamis, 01 Maret 2012

Apa yg Diniat itu yg Didapat



Masalah Niat, Perkara Berat
             Niat bukanlah perkara sepele, nilai seluruh kegiatan kita ditentukan oleh niat! Bahkan satu aktivitas yang sama, bisa beda jauh nilainya hanya gara-gara niat.
            Contoh, ada orang yang bekerja sekedar untuk dapat gaji (kebanyakan orang begini), ada yang bekerja untuk aktualisasi diri, ada yang bekerja supaya tidak dicap pengangguran, ada yang bekerja untuk mencari jodoh, ada yang bekerja untuk mendapatkan teman, ada yang bekerja untuk ibadah (ahli bekam yang tidak menentukan tarif misalnya), dan berjuta niat lainnya.
Sama juga dengan belajar, tidur, mandi, menonton TV, mendengar radio, menulis cerpen, baca buku, berpakaian, berdandan, berbelanja, belajar bahasa asing, bahkan shalat, puasa, sedekah, keseluruhan amalan kita juga ditentukan oleh niat dalam hati. Coba perhatikan, apa sih niat kita ketika memakai parfum hari ini?
            Jika kita melakukan sesuatu hanya untuk hal yang bersifat keduniaan, nilai niat kita itu rendah, karena dunia sifatnya sementara dan semu, tapi jika kita mengerjakan sesuatu dengan niat ibadah, maka kita berhasil meninggikan nilai perbuatan kita itu, karena tidak semata-mata mengharapkan dunia, tapi juga berpikir mengenai kehidupan kelak di negeri akhirat.
Lagipula, bukankah Allah telah menyatakan bahwa manusia hidup di muka bumi hanya untuk beribadah pada-Nya? Maksud ibadah di sini bukan sekedar ibadah khusus yang bersifat ritual, kan tidak mungkin dong kita shalat terus-menerus 24 jam sehari, atau puasa 30 hari sebulan, atau membaca Quran non-stop hingga seminggu. No way! Lagipula memang bukan itu yang diminta.
            Maka, ibadah yang dimaksud bisa jadi telah dapat dipenuhi hanya dengan memasang niat yang benar. Bukankah ketika kita telah berniat melakukan suatu kebaikan, kita telah memperoleh satu pahala kebaikan tersebut, dan jika niat itu benar-benar dikerjakan maka kita mendapat satu pahala lagi, jadi doublepahalanya!
So, niat itu sangat penting diperhatikan!

Sarjana oh sarjana






Wahyuni, S.ThI (InsyaAllah, amiinn..)
Berat nampaknya nama kalau sudah diiringi oleh beberapa huruf tersebut. Benar kata orang, tamat kuliah itu bukan perkara yang gampang dan sederhana. Tamat lalu diwisuda, bahagia? Iya tentu, hanya sesaat menurutku. Beberapa detik setelah perhelatan akbar itu akan datang beban baru yang menurutku tak tanggung-tanggung beratnya yang akan dipikul. Masyarakat luas sudah berada dalam genggaman tangan, tanggung jawab untuk mengabdi kepada nusa bangsa, dan dedukasi seorang sarjanawan/wati dipertanyakan saat itu.

cerpen iseng : jungle in memory (kisah nyata)


Jungle in Memory
Aha,,, Pagi yang cerah ku buka mata dengan hati riang. Pukul sembilan teng ada janji yang harus ditepati, so, jalani aktifitas pagi dengan semangat yang luarbiasa biar janji terlaksana tepat pada waktunya dan hari-hari terakhirku pun akan usai dengan penutup yang menggembirakan, yap, aku berharap begitu.
"Kak, sarapan sudah beres, anak-anak sudah sarapan, yu go picnic lagi ya kak?", dari seberang telefon terdengar jawaban, "Pergilah, hati-hati".
Yihaaa,,,,
Sebenarnya berat juga meninggalkan ponakanku tiga bersaudara tinggal dirumah, si sulung memang sudah berumur sepuluh tahun, tapi nakalnya masih seperti anak-anak 6 tahun seusia adiknya, yang bungsu juga ikut-ikutan bandel. Jika bukan karena ada janji ku nggak bakalan tega ninggalin bocah2 dirumah, ortunya pade sibuk kerja mulu sehingga susah nyari waktu ku untuk pergi main.
Misi selundupanku berhasil, keluar rumah dengan diam-diam tanpa mereka tau kalau aku pergi. Kalau saja mereka tau, maka gagallah janjiku.
Udah lewat dari jam yang sudah direncanakan, telat nggak ya. Musti buru-buru nih ngejar waktu.

Selasa, 28 Februari 2012

Bagaimana Menulis Cerita


Bagaimana Menulis Cerita ala Asma Nadia
Cari cara untuk selalu mencatat setiap ide menarik

Temukan bentuk tulisan. Apakah akan dibuat dari A-Z alurnya linear biasa. Atau dimulai dari klimaks, bahkan akhir cerita

Buat outline sederhana bagaimana tulisan akan bergerak. Bukan keharusan tapi akan sangat membantu bagi pemula

Buat opening yang memikat. Hindari lead cerita yang biasa-biasa aja. Be creative!
Beri nyawa pada tokoh-tokohmu.

Garap setting (waktu/tempat) untuk memperkuat cerita. Beri warna lokal sesuai kebutuhan

Kenapa sebuah cerita hambar atau terasa monoton, karena tidak ada konflik/konflik tidak tergarap! Perhatikan konflikmu

Olah setiap unsur cerita dengan sabar. Beri perhatian pada detail yang harus dimunculkan agar logika cerita mantap

Hindari kebetulan dalam cerita, kecuali bisa dipertanggungjawabkan. Khususnya untuk penyelesaian cerita.
Saring dialog, buang yang tidak berfungsi.

Temukan formula ending yang pas, tanpa harus berpanjang-panjang kalimat.

Tentang ending lagi, akhir cerita yang baik meninggalkan gema lebih lama di hati pembaca. Jangan sia-siakan ending

Batasi ego-mu sebagai penulis. Tokoh-tokoh muncul sesuai karakter dalam ceritamu, tokoh-tokoh itu bukan dirimu.

Mematikan tokoh untuk memberi kejutan dalam cerita... cari cara lain yang tidak klise

Biasakan memulai dengan basmalah sebelum menulis, lalu mulailah menulis dengan hatimu

Belajar setia & bertanggung jawab dalam menyelesaikan ceritamu

Menulis untuk diselesaikan. Never ever give up on your stories. Give them chance!

Kegigihanmu dlm menyelesaikan cerita yang sudah kamu mulai mencerminkan kegigihanmu dalam menghadapi persoalan kehidupan

Beri judul yang menarik untuk ceritamu

Menulis itu cara lain berbagi. Hilangkan ketakutan/tidak pede dan excuse lain dalam mengirim cerita ke media

*sumber: http://forumlingkarpena.net

Kamis, 03 Desember 2009

Puisi: Duka dalam Ketegaran

diam berayun disela kejenuhan
cari pesona ketika semua bersuara
hingga syair menggema
dalam bayangan fatamorgana

tentang seorang perempuan
dia hebat, cerdas dan tegar
mengikis hidup tanpa desah
di tepian rengkuhan waktu yang menghitam,
mengabur dalam genggamnya
dan semakin putih kian berkilau
bukan seorang penyulap masa
pun penyihir warna

pedang tajam bersilau cahaya
terpatri kokoh dalam ketulusan hati
yang siap menerkam bebuyutan
walau mereka datang dari sisi belakang
seperti bencana penghancur itu

dalam gelap pejaman
terukir sebait mantra suci
terurai bak pancaran api pergantian tahun
dia anggap taburan doa
diatas bingkisan permintaan
cinta terlahir dalam tasbih hatinya yang belukar

cerpen: Aku dan Bank, persembahan baktiku

“Assalamu’alaikum..”
Tak ada jawaban.
“Pak!”
Masih tak ada jawaban. Di tengah hiruk pikuk pengunjung, seseorang yang berseragam serba hitam yang lumayan necis itu tetap melayani para pengunjung yang memerlukan informasi darinya.
“ssstt….” Aku tak dihiraukan yang sedari tadi melambai-lambaikan tangan burusaha memberi isyarat bahwa aku ada di seberang pintu menunggu pintu terbuka. Barangkali karena porsi tubuh yang mungil berdiri dekat pintu persis di belakangnya, dia tidak menyadari kedatanganku.
Berhubung kecilnya tubuh ini, aku tak memiliki tenaga yang cukup untuk membuka pintu kaca yang bertulis dorong/push ini. Bapak yang suka senyum itu pun tak menyadari aku memanggilnya.
Tiba-tiba ada yang membuka pintu, seorang pengunjung yang baru keluar. Aku berhasil menyelinap masuk dan langsung mencolek penjaga pintu yang berlebel Narno Wiyanto terselip di dada kirinya.
“E..e… si adek datang lagi,” Sapanya bersama bibir yang berkembang manis melintang di bawah hidung mancungnya.

Selasa, 07 Juli 2009

Ayu's Birthday


AYU’S BIRTHDAY
Tulisan itu sangat jelas tertera karena ditulis dengan huruf tebal dan dicetak dengan enam belas times new roman.
Sudah hampir setahun ayu seorang gadis manis berdarah minang dan solo selalu mendapat paket dari Indonesia. Hal itu dilakukan oleh seorang ayah yang sangat menyayanginya. Semenjak perpisahan mereka delapan bulan yang lalu, ketika dia menamatkan sekolahnya di bangku aliyah setingkat SLTA dan Ayu dinyatakan lulus beasiswa ke luar negri tepatnya di Timur Tengah Kairo. Ayu berjanji kepada Ayahnya untuk selalu menelfon pulang minimal sekali setahun atau tepat pada ulang tahunnya.
Ayu rela meninggalkan ayah dan keluarga demi sebuah cita-cita menuntut ilmu di negri antah-berantah. Dia berjanji akan menamatkan S1-nya dengan cepat dan membawa segudang ilmu dari Kairo untuk menyiarkan dakwah di kampungnya, Solo, mengubah kebiasaan penduduk solo yang terlalu melenceng dari ajaran Islam sebenarnya, bahkan menyimpang dari al-Quran dan Sunnah. Karna demi keselamatan penduduk di masa depan, Ayah rela melepas Mbak yu sendiri mencari ilmu di negri seberang, meski masih ada rasa berat dalam hati berpisah dengan anak perempuan satu-satunya itu.

Sabtu, 13 Juni 2009

Topeng Saya


Jangan terpedaya oleh saya, jangan terpedaya oleh topeng yang saya pakai. Saya memakai seribu topeng, topeng yang saya takut untuk menanggalkannya, yang tidak satu pun mencerminkan wajah saya yang sebenarnya. Tak seorang pun yang bisa percaya, tetapi janganlah percaya.
Saya memberikan kesan bahwa kedudukan saya dalam keadaan yang selamat, semua yang bersama saya bercahaya dan tentram baik lahir maupun batin, rahasia adalah nama saya, dan ketenangan adalah permainan saya; air semuanya tenang dan saya merasa berkuasa dan tidak memerlukan bantuan siapapun, tetapi jangan percaya itu semua; tolong jangan!
Penampilan luar saya kelihatan halus, tetapi itu adalah topeng saya, topeng yang selalu berubah dan senantiasa menutupi wajah saya yang sebenarnya. Di bawah topeng itu adalah ketidak puasan hati, ketidaktentraman dan kegelisahan. Yang di balik topeng itu ialah diri saya yang sebenarnya yang dalam kebingungan, ketakutan dan kesunyian. Tetapi saya sembunyikan diri saya; saya tidak mau siapapun mengetahuinya, saya panik memikirkan kelamahan saya akan terbongkar. Itulah sebabnya saya secara gila mencipta topeng untuk berlindung, satu pencaharian yang rumit untuk membantu saya berpura-pura dan berlindung dari pandangan mata mereka yang dapat mengenal saya. Tetapi pandangan seperti itu sebenarnya adalah penyelamat saya. Itulah satu-satunya yang dapat membebaskan saya daripada diri saya yang terpenjara oleh dinding penjara buatan sendiri, dari dinding pemisah yang bersusah payah saya bina. Tetapi saya tidak menyatakan perkara ini kepada kamu, saya tidak berani, saya takut..

Rabu, 09 Juli 2003

puisi2Q

Perempuan itu adalah ‘IBU’

Karya : Wahyuni


Saat fajar menampakkan wajah indah

jagad raya dan semesta penuh nur cahaya benderang

bidadari-bidadari resah menenangkanku ketika azan bersiteru

perempuan itu lembut dari bidadari membelai dan beri kehangatan rasuki aliran darah

bagai anak beruang dalam dekapan induknya

tercurah segala kasih sayang,

tertuai dan rasuki jiwa

mungilku

belaian cinta kasih beri cahaya hangat

bak kehangatan sang fajar di sudut subuh

hingga aku bergelayut dalam mimpi-mimpi

menikmati airsusu bunda

mentari memperagakan diri di tengah semesta

tangis manjaku terdiam dalam peluk eratnya

senandung nyanyian terbias dari mulutnya

walau tangan terus bersilat banting tulang

kaki terus jejaki jalanan

perempuan itu bagai sosok ayah

mencari kehidupan dalam keterasingan dunia

mengais kebahagiaan dengan tetesan keringat

sendiri mengarungi waktu

demi ku, masa depanku

monumen keindahan kasih perempuan itu

dibangun di atas kecupan sayang,

dekapan hangat

dan nyanyian indah mengalir sejuk

hingga mengantarku ke masa dewasa

perempuan itu hanya memberi tak harap kembali

peluh jelajahi tubuh yang tak kenal lelah hadang mentari

tak pikir dingin kuyup menantang hujan

tak peduli segala bahaya

perempuan itu menangis

kala tubuhnya kehilangan masa jaya dan kekuatan

kala belulangnya gontai berjalan

dunia kabur dalam matanya

perempuan itu tersenyum

kala belahan hati harapan bunda

berdiri tegap mata bersinar dengan cahaya senyuman

menyandang pakaian kemuliaan dan gelar kebesaran

keringatnya telah tergantikan

dalam simpulan senyum bahagia


Tentang penulis;

Nama : Wahyuni

Fak/Jurusan : Ushuluddin/ Program Khusus

No. BP : 508 k 078

Untukmu Sahabat

Karya: Wahyuni

Satu tawa senantiasa menari

Bergaunkan canda

Bergoyang di atas pentas ceria

Mengiringi nada-nada keakraban

Dan senandung rianya pun

Bergelut dengan cita dan cinta

Satu tangis terkadang ikut menghiasi

Bergaunkan ratapan diatas pentas kedukaan

Yang bergelimang lumpur kekecewaan

Dan perbedaan jadi pemisah antara kita

Airmata pun jadi pelampiasan hasrat

Itulah segala rasa

Selalu kita tepis bersama

Berdayung perahu persahabatan

Menuju ujung dunia

Kadang kita sebrangi samudra tawa bahagia

Terkadang kita lalui lautan api kesedihan

Menyatu langkah hadapi tantangan di depan

Sahabat tawa dikala gundah

Bagai pelukan dikala sedih

Hanya untukmu sahabat

cerpenQ


JEJAK PENCARIANKU
Entah kemana lagi kaki ini dilangkahkan, segala daya upaya juga tenaga telah dikerahkan hingga sampai kuberkorban membanting tulang, namun tak jua kutemukan yang dicari itu. Sesuatu yang dapat mengubah warna hidupku, yang memberi pencerahan pada jalan yang kulangkahi, dan memberiku kebenaran dalam segala kesalahanku.
Pernah suatu hari kudatangi seseorang yang konon katanya bisa menerima berbagai curahan hati umat. Maka kusampaikan segala unek-unek menceritakan semuanya agar mendapatkan sesuatu itu. Lalu dia pun memberiku beberapa nasehat beserta petunjuk dan cara bagaimana kubisa mendapatkan yang dicari itu dengan sempurna dan berkesinambungan. Dan aku pun mengikuti dan melakukan apa yang dia berikan.
Maka suatu hari langkah pertama yang kutempuh untuk mendapatkan sesuatu itu dengan mengunjungi sebuah perkumpulan yang terdiri dari beberapa orang yang masing-masing tubuh mereka tertutupi oleh pakaian dari puncak kepala hingga dasar kaki kecuali hanya kulit wajah dan telapak tangan saja yang bisa kulihat. Tak seperti aku yang hanya memakai baju kaus yang menutupi tapi masih terlihat lekuk tubuhku, termasuk juga bawahan berupa rok yang kupakai berasal dari jenis levis. Aku juga memakai kerudung yang sekedar menutupi saja, sangat beda dengan penampilan mereka yang sempurna cara menutupnya. Semua mata menghadapiku seolah-olah menantangku dan berkata: “siapa pula anak ini???!”